Showing posts with label destinasi jogja. Show all posts
Showing posts with label destinasi jogja. Show all posts

Gunungkidul Pada Suatu Hari


Gunungkidul Pada Suatu Hari



jurnal0.blogspot.com Terima kasih untuk mengunjungi blog saya, hari ini saya akan berbagi informasi tentang Gunungkidul Pada Suatu Hari. Setiap orang membutuhkan banyak informasi ada info terkecuali tentang Gunungkidul Pada Suatu Hari adalah, untuk lebih jelasnya silahkan lihat artikel dari blog ini dilengkapi dengan pasal video, sehingga Anda akan mudah untuk hanya mendengarkan seluruh isi artikel ini dengan video padaGunungkidul Pada Suatu Hari Selamat membaca.

Melepas Rindu Akan Air di Umbul Ponggok


Jogjakarta memang kekurangan laut tenang yang dapat digunakan untuk snorkeling atau menyelam layaknya laut di kawasan Bali atau Lombok. Tapi untuk sekedar berlatih menyelam dan foto bawah air yang lumayan, saya merekomendasikan tempat ini. Namanya Umbul Ponggok, sebuah kolam mata air alami di wilayah Klaten, Jawa Tengah, sekitar 1,5 jam dari kota Jogjakarta. Kolam ini sudah cukup dikenal di kalangan teman-teman penyelam karena biasa digunakan untuk berlatih snorkeling dan scuba diving.
Sebenarnya Ponggok adalah nama desa wisata air yang memiliki cukup banyak umbul semacam ini seperti: Umbul Sigedang, Umbul Besuki, dan yang paling besar Umbul Cokro. Masing-masing punya keunikannya sendiri, kebetulan saya baru mencicipi Umbul Ponggok. Dilihat dari depan, saya sempat meremehkan tempat ini karena letaknya persis di pinggir jalan dan hanya ada satu kolam besar dengan fasilitas biasa saja. Tetapi setelah menceburkan diri, saya cukup betah! Jika anda ingin berenang di kolam mata air jernih yang segar dan tidak berkaporit serta ditemani ratusan ikan jinak, mampirlah ke Umbul Ponggok. Lumayan untuk menghilangkan penat setelah seminggu beraktivitas :)

Kalau main ke Umbul Ponggok, bantu jaga kebersihan umbul ya.. Jangan buang sampah sembarangan ke dalam umbul dan sekitarnya. Walaupun banyak warga setempat yang menggunakan umbul untuk mandi, mencuci dan aktivitas lain, saya sarankan anda tetap membersihkan diri di kamar mandi yang sudah disediakan saja.

***
Biaya masuk: Rp 3.000 | Sewa ban: Rp 3.000 | Cuci/mandi: Rp 1.000
Saya tidak pandai menjelaskan petunjuk jalan, silakan cari lokasi 'Desa Ponggok' via GPS atau googlemap (karena saya juga mencarinya menggunakan GPS! hehe)
Update | Terima kasih untuk ancer-ancer yang diberikan mawi wijna, Umbul Ponggok dapat dicapai dengan cara sebagai berikut: Dari selepas kota Klaten, dari Jl. Solo pas pertigaan lampu-merah terminal Penggung itu belok ke utara, arah ke Polanharjo. Kalau mau mudah, ikuti petunjuk menuju Umbul Cokro.

umbul seluas lapangan sepakbola
ada bebek-bebekan -__-
berenang ditemani ikan-ikan
oops :p
cocok buat yang suka snorkeling
abi-zizi
dancing in the water
saya juga kurang paham kenapa ini diberi pagar. mungkin semacam untuk melindungi sumber mata air?
ada juga mata air yang keluar dari pasir di bawah kami, menimbulkan gelembung-gelembung kecil yang lucu!
Foto oleh: Rifian Ernando, Maharsi Wahyu, Andriza Udin, Nindya Herdianti

Lanskap Merbabu Via Selo


bersujud syukur telah diberikan izin mencapai puncak Merbabu

Akhirnya, setelah enam bulan berlalu saya bisa memuat foto-foto lanskap Merbabu ini di blog. Catatan pendakianya pernah saya tulis di sini. Saya memposting foto dan catatan pendakian dengan harapan teman- teman dapat termotivasi untuk ikut menikmati keindahan gunung-gunung di Indonesia.

Dengan menyadari keindahan yang dimiliki negeri ini, besar pula harapan saya agar kita menyadari bahwa kitalah agen-agen pelestari dan penjaga alam Indonesia. Jika mendaki, jadilah pendaki yang bertanggung jawab dan peduli dengan lingkungan. Caranya sangat mudah kok. Saya sendiri berpegang pada pepatah berikut ini.
Take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time.
  1. Jangan pernah membuang sampah di gunung. Saya juga pantang membakar sampah yang saya hasilkan di gunung. Bahkan bungkus permen pun tidak. Bawa sampah yang anda hasilkan dan buanglah di tempatnya ketika telah tiba di pemukiman. Gunung BUKAN tempat sampah!
  2. Jika membuang air besar di gunung, sebaiknya gali lubang. Jika hanya ditutupi tisu basah, kasihan kalo ada pendaki lain yang juga ingin buang air tapi nggak jadi gara-gara lihat 'jejak' kita.
  3. Jangan mencemari sumber air. Contohnya saat di Ranu Kumbolo, saat itu banyak pendaki mencuci perkakas masak di Ranu. Hasilnya, tepian Ranu Kumbolo penuh dengan sisa makanan. Hiii.
  4. Jika membuat api unggun, pastikan apinya terisolasi dan tidak akan merembet ke tumbuhan di sekitar. Kan sedih juga kalau hutan di gunung kebakaran gara-gara api unggun pendaki. Kalau merokok juga jangan lupa matikan dulu apinya sebelum membuang puntung rokok.
  5. Jangan memetik atau mengambil tumbuhan atau bunga di gunung, terlebih edelweis yang sudah langka tersebut. Buat kenang-kenangan? Ambil fotonya saja. Lebih abadi dan bisa dibagikan ke siapapun kan?

Masih banyak hal-hal yang dapat (dan mesti) dilakukan para pendaki agar tidak merusak alam, tapi sementara saya share segitu dulu aja. Selanjutnya, selamat menikmati lanskap Merbabu jalur Selo dengan ketujuh puncaknya di bawah ini :)

sunrise in your eyes
pohon edelweis
puncak Merapi mengintip dari balik bukit sabana
rerumputan sabana berbisik mesra, dan kau cukup sendiri saja untuk menikmatinya.
trek selepas Watu Tulis
langsung menghadapi bukit ini selepas campsite
sabana II yang sunyi
menuju puncak triangulasi

The Beach Is Ours!



On a sunny day we go...

sunshine, water, and sand. let's smile!
the sun will set for you.



on a starry night...




and say hello to the blue sky!

but this is the most comfortable place to relax

a photoshoot? why not?


it is not the end, let's have another trip, mates! :)



****
Inilah cara kami menabung rindu, di Pantai Indrayanti Gunungkidul.
Jangan takut untuk mencoba 'refreshing' di tempat yang tidak biasa. Kemping pantai, kenapa tidak? Carilah pantai yang aman dan fasilitasnya cukup memadai. Buat saya, Pantai Indrayanti lebih dari cukup: penerangan 24 jam (dari kafe Indrayanti), mushola, air bersih, toilet dan kamar mandi yang berjibun, dan keamanan yang insya allah terjamin.
Cukup bayar 10 ribu rupiah untuk parkir dan uang kebersihan! :)

Whale Shark di Laut Selatan

doc. KPN 2012
Kapal seberat 30 GT berwarna biru muda itu melaju perlahan menyusuri teluk Sadeng. Dermaga makin terlihat mengecil, terhimpit batuan karang raksasa di kanan-kiri. Sepuluh menit kemudian barulah nampak lansekap khas Gunungkidul yang menakjubkan; bukit-bukit karang gundul bertebing 90 derajat yang angkuh. Ombak ganas berkejaran dengan cepat dan akhirnya menabrak dinding tebing, menggerus lubang karang yang terus membesar. Saya duduk diam di dekat anjungan kapal, menatap lansekap tersebut tanpa berkedip atau mengatupkan mulut. Belum pernah sekalipun saya melihat Gunungkidul dari sisi yang lain.

Ombak cukup tenang ketika kami bergerak dari dermaga, tetapi tingkahnya makin menggila ketika kami tiba di laut selatan. Kata para kru kapal, cuaca hari ini baik dan ombak tidak terlalu besar. Konon katanya, ketika sedang musim ombak besar, bisa saja ombak setinggi 4 meter menerjang kapal dan air segera membanjiri dek. Saya merinding mendengarnya. Apa kabar mabuk laut kalau begitu keadaannya ya?

Ketika tebing-tebing karang itu sudah nampak seperti miniatur di kejauhan, kapal pun berhenti melaju. Nakhoda memberi perintah untuk mematikan mesin dan membiarkan kapal terombang-ambing di lautan.

"Hayooo, kita lihat ya, siapa yang nggak mabuk laut kali ini..." goda seorang kru kapal dengan tawa penuh arti. Kami berteriak penuh semangat, dan segera tingkah anak-anak makin menjadi. Ada yang berdiri angkuh di tiang anjungan menatap lautan luas seakan menjadi raja lautan, ada yang berpose seperti sedang berdiri di atas papan surfing (termasuk saya), ada yang tidur-tiduran di atas jala, atau tetap asyik makan snack bekal dari daratan.

Jujur, di tengah lautan dan terombang-ambing begitu, saat itulah pertama kalinya saya merasakan mabuk laut. Saya tidak merasa pusing, hanya saja perut saya seperti diaduk-aduk. Saya berhasil menghilangkan pusing dengan memandang tebing di kejauhan, tapi perasaan campur aduk di perut rasanya tidak dapat dibohongi.

Nakhoda kapal tetiba berteriak, "Ada yang mau nyebur nggak?"

Wajah-wajah tertarik nan penasaran segera muncul dari anjungan. Mereka adalah para lelaki gagah berani (hahaha bohong) yang ingin menjajal ganasnya ombak laut selatan. Didahului oleh para kru yang melompat pasti ke tengah lautan, kemudian panitia dan beberapa peserta lelaki menyusul untuk ikut berenang. Byur! Satu persatu tubuh itu segera merasakan dinginnya air biru samudra. Kami bersorak sorai menyemangati mereka yang sibuk menyeimbangkan diri agar kepala tetap berada di atas permukaan air. Akhirnya anak terakhir menyeburkan diri, ketika itulah seorang kru kapal di anjungan berteriak panik.

"Awaaas mas ada ikan mas!"

Ikan? Segera saya merapat ke pinggir kapal untuk melihat ikan apakah yang membuat si kru panik. Baru saja saya bertanya-tanya, tetiba seekor hiu berbadan totol-totol dengan panjang sekitar tiga meter menampakkan diri dari kedalaman lautan. Si anak yang menceburkan diri terakhir tadi hanya berjarak dua meter dari si ikan, dan diapun berenang panik ke arah kapal seperti anak-anak lainnya.

Whale shark. Kami lihat whale shark. Yang selama ini hanya saya lihat di Teroka. Yang konon muncul di Teluk Cenderawasih Papua. Sekarang ada di depan kami, muncul seakan ingin menyapa. Kami berteriak-teriak histeris, antara merasa sangat senang sekaligus panik akan nasib teman-teman kami di bawah sana. Benar-benar ndeso saat itu. Makhluk itu hanya keluar sesaat selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menenggelamkan diri ke lautan biru. Saat itulah saya sadar, anak-anak yang tadi menceburkan diri sudah berpegangan erat pada ban dalam yang tergantung di sisi-sisi kapal. Kami pun tertawa terbahak-bahak mengingat kebodohan barusan.
 
doc. KPN 2012

 Cuma 'digodain' whale shark. Untung cuma whale shark. Untung whale sharknya diam, tidak membuka mulut dan menghisap. Atau menamparkan ekornya ke air. Atau menamparkan ekornya ke mereka. Hahaha.

Tetapi euforia bertemu whale shark itu tidak terlalu lama. Saya segera dilanda mabuk laut, tanpa pakai pusing saya langsung merasa begitu mual. Ternyata saya tidak sendirian, lima wanita yang ada di pelayaran tersebut juga mengalami hal yang sama: muntah di lautan. Seirama dengan tiap gelombang besar yang menerjang, saat itulah kami segera menyingkir ke pinggir dan melakukan ritual yang sama.

Saya terus muntah sampai isi perut terasa kosong. Padahal sebelumnya saat KKN, belum sekalipun saya mabuk laut! Padahal kapal yang dinaiki saat itu lebih kecil dan tanpa tenaga. Tapi ternyata ombak laut selatan lebih ganas. Ampun-ampunan, saat itu saya hanya terduduk lemas di pinggir kapal berharap kami segera tiba di daratan.

Saya ternyata masih jadi anak gunung rupanya :))

__________
Ini adalah cuplikan dokumentasi saat whale shark nongol. Didokumentasikan oleh Guntur dari KAKPN.

Rute Gowes Favorit: Ancol


Selokan Mataram ke arah barat hingga mencapai Ancol Bligo di perbatasan Magelang, merupakan salah satu rute bersepeda favorit saya. Kenapa? Ya, jalanannya tidak begitu ramai, hijau sawah dan rumput dimana-mana, dan berakhir di sebuah bendungan besar yang suara airnya menenangkan. Ancol Bligo ini merupakan 'muara' dari Selokan Mataram yang legendaris itu. Kalau beruntung, di sepanjang selokan anda akan menemukan pemandangan ndeso, entah anak-anak desa yang berenang di selokan, kerbau yang mandi, atau rombongan bebek yang berjalan beriringan menuju ke sawah. Lovely banget buat pecinta pemandangan damai macam saya ini.

Jaraknya cukup jauh dari rumah saya di daerah Mlati, sekitar 20 kilometer kali ya, yang jelas saya pernah waktu itu nggenjot ke sana kok rasanya gak sampai-sampai. Hahahaha. Satu yang ga direkomendasikan, jangan gowes naik folding bike kayak punya saya ini. Capeknya 2x lipat karena harus nggenjot lebih banyak!