Showing posts with label Indonesia Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Mengajar. Show all posts

Dicari, Pelari Terakhir! (+Pengalaman Seleksi Indonesia Mengajar)


jalan masuk menuju Dusun Serambah, dusun penempatan saya di Pulau Bawean (2013)
*tulisan ini saya buat berbekal potongan ingatan dari lebih setahun yang lalu. maaf jika ada kesalahan penulisan, ya :)

Rasanya baru kemarin saya menapakkan kaki di Jalan Galuh II no 4 sembari menggendong sebuah carrier, dengan perasaan tidak karuan karena selanjutnya hidup saya akan berbeda. Halah. Yap, 22 April 2013 adalah hari bersejarah karena itulah hari pertama saya akan memasuki camp pelatihan Pengajar Muda VI. Hampir satu setengah tahun yang lalu! Oh maaan, cepet banget!

Perjalanan panjang tersebut dimulai dari sebuah titik balik. Alkisah pada akhir tahun 2012, dengan langkah gontai saya memasuki gedung Grha Sabha Pramana UGM untuk mengikuti talkshow Indonesia Mengajar bersama Pak Anies Baswedan. Motivasi saya saat itu hanya ingin lihat Pak Anies Baswedan saja. Sudah sejak lama saya 'tersihir' oleh berbagai speech beliau dan kali ini ingin saksikan langsung di depan mata. Selain Pak Anies, saat itu ada beberapa alumni Pengajar Muda yang ikut bercerita tentang pengalamannya selama di penempatan. Keluar dari ruangan kok ya tekad saya bisa berubah: saya ingin jadi Pengajar Muda! (thanks to Mas Arief Lukman Hakim yang sukses bikin saya ngiler ingin punya pengalaman yang sama serunya)

Dan sekarang, 1 November kembali datang. Rekruitmen Pengajar Muda angkatan X sudah dibuka. Indonesia Mengajar mengundang putra-putri terbaik bangsa untuk mengabdikan satu tahunnya di pelosok negeri. Yap, sudah sembilan angkatan yang sedang dan akan diterjunkan ke 17 kabupaten di seluruh Indonesia dan angkatan 10 siap menyusul. Apakah kamu salah satunya? Jika tertarik untuk mendaftar bisa langsung klik link INI ya.. :)

Kok pelari terakhir sih?

Dalam satu tahun, ada 2 kloter Pengajar Muda yang dikirim ke daerah penempatan. Tujuh kabupaten di angkatan ganjil dan 10 kabupaten di angkatan genap. Indonesia Mengajar berharap, para Pengajar Muda yang bergantian datang tiap satu tahun itu bisa purna tugas setelah lima tahun saling mengestafetkan tanggung jawab untuk berkarya di penempatan. Dan kini datanglah tahun kelima. Saatnya para pelari terakhir menyelesaikan estafet dan menempuh garis finish. Lalu apakah tugas itu selesai? Tentu belum. Lima tahun ini adalah angka riil yang mampu disebut atas harapan pada sebuah perubahan.

Ada banyak teman yang bertanya bagaimana proses seleksi Pengajar Muda ini. Daripada saya cerita satu persatu sampai berbusa, lebih baik saya tuliskan di sini jadi semoga bisa lebih bermanfaat. Dulu saya juga banyak terbantu dari para kandidat Pengajar Muda yang menuliskan pengalamannya mengikuti seleksi di blog mereka. Tidak perlulah saya muluk-muluk bercerita tentang suka duka menjadi seorang Pengajar Muda agar kalian ngebet mendaftar. Saya juga sudah sering menuliskan tentang pengalaman saya selama menjadi guru di pelosok Bawean. Toh ini hanyalah salah satu dari sekiaaan banyak ladang mencari ilmu dan amal.

Apa saja proses seleksi Pengajar Muda?

Perlu diingat bahwa proses seleksi setiap angkatan tidak selalu sama. Saya hanya menuliskan pengalaman seleksi saat angkatan saya dulu, bisa saja lebih banyak prosesnya, atau justru lebih sedikit. Tapi paling tidak sudah ada gambaran dan persiapan ya :) 

  • Seleksi administrasi 
Meski judulnya hanya seleksi administrasi, jangan pernah sepelekan tahap ini. Indonesia Mengajar benar-benar serius dalam menyaring calon yang mereka cari. Syarat-syarat pendaftaran yang harus dipenuhi adalah: 
-  Belum menikah (biar ngga berat meninggalkan istri/anak dan kepikiran selama 1 tahun)
-  Berusia maksimal 25 tahun (setahu saya ini bukan syarat mutlak, jika umurmu sedikit lebih dari 25 tahun tapi ada pertimbangan lain yang membuatmu lebih menarik, jangan ragu buat daftar)
-  Lulus S1 semua jurusan (banyak pertanyaan: harus dari jurusan pendidikan nggak? Jawabannya: TIDAK. Justru IM memberi kesempatan pada sarjana non-kependidikan untuk merasakan nikmatnya jadi guru :D)
Kalau niat mendaftar sudah bulat, syarat pendaftaran sudah terpenuhi semua, persiapkan berkas administrasi selengkap mungkin. Scan berkas seperti ijazah dan KTP karena seleksi administrasi ini sepenuhnya via online. Tidak ada surat menyurat yang bikin kamu ketar-ketir berkasmu mungkin nyangkut di kantor pos. Hahaha. Update lah CV jadi saat mengisi form pendaftaran tidak perlu mengais-ngais ingatan lagi, cukup mengintip CV saja.

Form pendaftaran ini lumayan panjang dan menguras tenaga, selain harus melengkapi data-data, kita juga diminta menjawab beberapa pertanyaan berbentuk essay. Jangan isi sekenanya, karena recruiter akan melihat keseriusan kalian mendaftar dari essay yang dikirimkan. Pertanyaannya seputar motivasi mendaftar, pengalaman organisasi, hambatan dan prestasi, dan kesiapan menjadi Pengajar Muda. Jawab dengan jujur dan lugas karena jawaban essay ini akan 'dipertanggungjawabkan' jika kalian lolos ke tahap selanjutnya.

Jika tidak bisa menyelesaikannya dalam satu waktu, cukup klik simpan dan kalian bisa update jawaban di lain kesempatan. Kalau tidak salah saya waktu itu menyelesaikannya dalam satu minggu. Lama ya? Haha :D

Jika ada pertanyaan terkait seleksi PM ini, bisa ditanyakan via twitter @JadiPM. FYI, pengalaman organisasi akan sangat berguna. Jadi kalau kalian punya segudang pengalaman oganisasi, itu bisa jadi nilai tambah. Ceritakan saja beberapa yang paling menonjol di form pendaftaran.
  • Direct Assessment (DA)
Jarak dari waktu penutupan pendaftaran hingga pengumuman lolos ke tahap DA kira-kira tiga mingguan. Lumayan deg deg ser nunggunya dan saat itu saya jingkrak-jingkrak saat tahu lolos ke tahap DA. Lima menit setelahnya langsung panik karena ngga tahu saat DA itu bakal ngapain aja. Hahaha. Kalau tidak salah pendaftar online saat angkatan saya mencapai 7500-an orang dan yang lolos ke DA sekitar 260-an orang. Dipangkas habis-habisan ya? Makanya, maksimalkan pengisian form pendaftaran online mu.

Saat angkatan saya dulu ada beberapa tahapan seleksi yang dilaksanakan langsung dalam 1 hari yaitu Presentasi Diri, FGD, Wawancara, Psikotes, dan yang paling berkesan adalah Microteaching. Tiap kandidat akan bergerak dalam kelompok dari satu pos seleksi ke pos lainnya. Waktu itu saya dapat jadwal DA hari pertama sekitar pertengahan Januari 2013. Saya ceritakan satu persatu ya. 

1.  Presentasi Diri
Kita diberi waktu (kalau tidak salah 3 menit) untuk mempresentasikan tentang diri sendiri dalam sebuah kelompok. Kemampuan kita 'menjual potensi diri' akan terlihat di sini. Jujur, waktu itu saingan saya hebat-hebat dengan segambreng pengalaman dan prestasi. Tapi ada beberapa yang justru terlihat angkuh dengan beragam pengalaman yang ia miliki. Saya kurang paham penilaiannya apa, tapi menurut saya pribadi sih recruiter melihat bagaimana kita membawa dan memperkenalkan diri sendiri, bagaimana kita merespon orang lain, dan bagaimana kita bisa membuat orang lain tertarik pada keunikan diri kita. Saat bertugas di penempatan, kita harus pintar-pintar menempatkan diri karena orang yang ditemui akan sangat beragam, mulai dari warga desa hingga bupati. 
Tetaplah tenang saat menceritakan diri sendiri. Kalau punya banyak waktu, berlatihlah dan ingat poin-poin apa yang ingin kalian sampaikan. Ingat pada jalur yang kalian inginkan, jangan sampai kejauhan beloknya, nanti malah ngelantur kemana-mana ceritanya. Hehe. Jadilah penampil dan pendengar yang baik. Kalian bisa mengajukan pertanyaan saat ada teman yang mempresentasikan dirinya.

2.  FGD
Sesi FGD hampir pasti selalu ditemui di tiap seleksi pekerjaan. Di sinilah recruiter bisa mengetahui cara kita berperilaku dalam kelompok seperti menyampaikan pendapat, merespon pendapat, membuat kesepatakan, dan mengakomodasi kepentingan orang lain. Akan diberikan kasus (biasanya terkait pendidikan) dalam kelompok tadi dan masing-masing diminta menganalisis dan mencari solusinya dulu. Kemudian akan diberi waktu mendiskusikan solusi terbaik dan mencari kesepakatan tanpa melalui voting. Susah lho kalau masing-masing mempertahankan ego dan itu bisa jadi nilai minus. Saran saya sih, tetap aktif dalam kelompok tapi lebay juga. Tetap berikan kesempatan pada yang lain. Sebaliknya jika kita masih minder dan merasa kurang mampu speak up, tawarkan diri menjadi notulen dan tetap tenang berpendapat saat diberi kesempatan berbicara. Kalau mau cari tips FGD banyak kok bertebaran di internet :D
3.  Wawancara
Ucapkan selamat tinggal pada kelompok seleksi yang membersamai sejak awal! Haha. Masing-masing kandidat akan diwawancara secara bergiliran oleh 1-2 orang, baik dari pihak IM atau recruiternya. Waktu itu saya diwawancara selama hampir 1 jam, pertanyaannya seputar jawaban essay kita aja sih. Pokoknya diputer-puter, kalau bohong pasti kelihatan. 

4.  Psikotes

Tahapan psikotes ini sama seperti psikotes pada umumnya, tapi ngga ada TPA nya. Tes lebih ke kepribadian saja seperti wartegg test, tes menggambar pohon dan orang, juga tes yang pilihan ganda ratusan pertanyaan itu loh. 

5.  Microteaching
Ini adalah seleksi paling heboh dan berkesan buat saya. Kami kembali berkumpul dalam kelompok kecil dan masing-masing diberi waktu 7 menit untuk simulasi mengajar di dalam kelas. Materinya sudah diberitahukan saat pengumuman DA jadi kita bisa bersiap apa yang mau diajarkan sampai alat ajarnya. Kalau ngga salah waktu itu saya dapat materi matematika. Wah, semua sudah saya siapkan tuh, termasuk latihan microteaching agar 7 menit bisa dimanfaatkan dengan baik. 
Saat pelaksanaan? Hancur.
Masing-masing penampil akan dibully oleh satu ruangan. Luar biasa tekanannya. Saya cuma bisa cengangas cengenges mengatur kelas semampu saya. Selain teman sekelompok, akan ada beberapa alumni yang ngetem di dalam kelas dan berperan sebagai muridmu. Jangan berharap bisa menyampaikan materi ajar karena suasana kelas akan chaos layaknya TK! Waktu itu saya sampai dikunci di luar kelas oleh salah satu murid. Ada lagi yang dikerjain dimana seluruh murid diam seribu bahasa tidak mau mendengarkan gurunya. Ada-ada saja lah skenario mereka. Menurut saya sih yang dinilai adalah ketenangan kita menghadapi keributan tersebut, bagaimana kita menghandle situasi, sampai kreativitas kita dalam usaha menyampaikan materi. Kalau saran saya, ngga usah dipikir berat-berat yang bagian ini, anggap have fun saja.. Waktu itu sebelum giliran microteaching saya masih jadi murid pendiam, tapi setelah saya maju, saya ikutan jadi murid bandel. Kalau diingat masih suka ketawa, karena beberapa alumni yang jadi murid di kelas itu kini jadi teman-teman dekat saya :)
  • Medical Check Up 
Rentang waktu pengumuman MCU berbeda tiap kandidat. Waktu itu saya nunggu lebih dari 1 bulan, sementara teman saya hanya 2 minggu. Jadi kalau temanmu sudah dipanggil dan kamu belum, jangan pesimis dulu. Siapa tahu giliranmu memang belum datang. Tetap berdoa!
  • Camp Pelatihan Pengajar Muda 
Jika sudah terpilih menjadi satu dari 75 Calon Pengajar Muda, kamu harus mempersiapkan diri ikut camp pelatihan di bulan April. Ingat ya, masih calon :p

Nah, sudah ada gambaran kan bagaimana proses seleksi Pengajar Muda? Sekarang waktunya buka laptop dan ketik www.indonesiamengajar.org. Tunggu apa lagi? Ada ratusan anak-anak di penjuru negeri yang menantikan kedatanganmu, pelari terakhir. 

Semoga sukses ya!

Tiap turun ke kecamatan selalu jadi hiburan buat saya, karena bisa berkendara di jalan persis tepi lautan.
Saya punya teman-teman baru, kelima manusia inilah yang jadi shelter pertama setiap masalah yang saya temui di penempatan.
Saya punya keluarga baru yang cintai saya apa adanya, menganggap saya bagian dari mereka.

Saya punya murid-murid baru yang ajarkan apa itu arti sayang.
Saya punya teman main baru yang tak pernah lelah ajak saya mengeksplor Bawean.

Bertemu Emak Masnah Sekali Lagi

"Emak kapan ke Jawa?"
"Tak tau Buuuu.. Tak punya uang. Emak belum pernah ke Jawa.."
"Sekali-kali main Maaak. Biar tahu Gresik macam apa.. Tak tua di Bawean saja..."
"Tak tahuuu Buuu.."

(obrolan singkat di amben depan rumah pada suatu malam di Serambah)

Hari Jumat pukul satu dini hari. Bus Patas Jogja-Surabaya yang saya tumpangi rupanya menjadi bus terakhir yang berangkat dari Terminal Giwangan hari itu. Beruntung saya tak terlambat, bisa-bisa perjalanan-singkat-satu-hari saya akan berantakan. Dengan estimasi perjalanan 8-9 jam, sekitar pukul 9 pagi saya akan tiba di Terminal Bungurasih. Lumayan, bisa tidur nyenyak di jalan. Karena keesokan malamnya saya akan berada di bus ini lagi, kembali ke Jogja.

Apa yang membuat saya begitu bersemangat pergi ke Surabaya kali ini?


Masih ingat Kak Irul, kakak hostfam saya di Serambah? Kak Irul akan diwisuda sebagai seorang sarjana Agama Islam. Selama empat tahun terakhir memang ia menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang membuka cabang di Bawean. Proses kelulusannya sempat tertunda beberapa kali, maklum dosennya diimpor langsung dari Jawa. Tapi akhirnya kepastian didapat juga, akhir September ini ia diwisuda dan harus menyeberang ke Gresik.

Sebagai adik angkat yang melihat perjuangannya untuk lulus, tentu saya sangat bahagia. Saya masih ingat betul bagaimana Kak Irul mencoba menyelesaikan skripsinya sendiri di tengah godaan hebat untuk menyerahkannya pada jasa calo skripsi dan ia tinggal bayar. Ia sempat tergiur, tapi saya yang saat itu sok bijak mengingatkan bahwa ilmu akan barokah kalau diperoleh dengan jalan yang baik. Kalau diingat lagi, saya kepedean amat nasehatin ustadz. Berasa saya sempurna aja. Hahaha.

Ya begitulah. Mendapatkan referensi skripsi di Bawean memang sulit sekali. Boro-boro perpustakaan, buku bacaan kuliah saja minim. Sebagian besar referensi ia dapatkan dari internet (yang mungkin saja akan ditolak mentah-mentah dosen kalau yang melakukannya mahasiswa UGM - ya tapi anak UGM mah sumber ilmunya turah-turah) dan saya hanya membantu di penulisan ilmiah serta penyusunan hipotesis. Setelah melalui itu semua, pada suatu sore ia pulang dengan wajah berbinar dan bercerita pada kami bahwa ia telah lulus.

Hal kedua yang membuat saya bersemangat adalah: Emak Masnah akan menyaksikan sendiri anak sulungnya menjadi seorang sarjana. Saya mewek kalau ingat seumur hidupnya Emak belum pernah menyeberang ke Jawa, tepatnya Gresik, dan merasakan bagaimana detak kehidupan kota yang katanya satu wilayah kabupaten dengan Bawean itu. Ia menyaksikan Jawa dari layar televisi, dari sinetron-sinetron yang sering ia tonton di malam hari. Kak Irul sempat melarang Emak ikut dirinya, malu katanya. Pak Bonaim, guru yang dulu mengajar di Serambah dan ikut Emak selama 4 tahun lah, yang bersikeras meminta Emak agar ikut.

"Biar rasakan naik kapal dan tahu Jawa seperti apa, Mak. Nanti Emak harus menginap di rumah saya," ujar Pak Bonaim.

Sayangnya Buppak dan Norma tak bisa ikut. Buppak terlalu sayang pada keempat sapinya yang harus dicarikan berkarung rumput setiap hari. Norma tak tega harus meninggalkan Buppak yang sudah sepuh sendirian tanpa teman. Apalagi dia sudah pernah ke Gresik dan bekerja di sana selama satu bulan.

"Kata Norma gantian Bu, dulu dia yang berangkat ke Jawa sekarang giliran saya, hahaha," ujar Emak dalam bahasa Bawean, seperti biasa.

Akhirnya hari Kamis, mereka jadi berangkat dalam rombongan besar bersama para wisudawan lain dari penjuru Bawean. Usul sudah berangkat duluan jadi saya lebih mudah berkoordinasi dengannya. Sebenarnya saya ingin sekali hadir di wisuda Irul hari Sabtu, sayangnya saya tak punya banyak waktu. Alhasil saya luangkan hari Jumat untuk sekedar bertemu mereka meski hanya beberapa jam saja.

Ketika hampir tiba di Surabaya, saya baru mendapat info kalau Emak sudah 'diboyong' ke rumah Pak Bonaim di dekat perbatasan Tuban sana. Kak Irul dan Usul stay di kota. Dengan motor sewaan dan kemampuan spasial terbatas, saya dan Wana nekat melaju kencang di tengah Jumat siang yang panas. Karena biasanya lewat tol kota, kali ini kami kebingungan dan akhirnya mengambil jalan memutar. Butuh waktu hampir tiga jam dari Surabaya untuk mencapai rumah Pak Naim, menyusur jalan lintas provinsi bersaing dengan truk-truk besar dan bus antarkota. Belum lagi di beberapa tempat jalanan bergelombang dan rusak parah akibat sering dilewati truk raksasa kelebihan muatan.
Baru kali itu saya lihat wajah Gresik sesungguhnya. Selama ini saya hanya berkutat di kota saja, saya sempat puji habis Gresik karena terkesan ramah dan menyenangkan. Tapi begitu keluar dari pusat kota, saya menghela napas. Kota ini dilingkupi polusi dari asap-asap pabrik sepanjang jalan. Udara panas menyengat yang merupakan perpaduan hawa pesisir dan kungkungan asap membuat saya selalu berpeluh. Saya hanya tersenyum kecut mendengar Wana mempertanyakan kemana Gresik yang selama ini saya banggakan. Gresik dikuasai oleh pabrik dan industri, sementara banyak warganya yang akhirnya harus menjadi buruh di tanahnya sendiri.
Pak Naim sudah menunggu di tepian jalan menuju rumahnya. Seketika perasaan saya langsung lega seperti disiram seember air dingin di siang hari. Rumah Pak Naim terletak di Ujungpangkah, hanya selemparan batu dari muara Bengawan Solo yang tersohor itu. Di belakang desa Pak Naim terhampar perbukitan kapur nan tandus yang menjadi sumber pasokan utama pabrik-pabrik semen di Gresik. Setelah melewati satu kilometer jalanan kampung yang damai, tibalah saya di rumah Pak Bonaim yang bersahaja.

Perasaan terharu tak terbendung ketika melihat Emak berlari dari dalam rumah menyambut kami yang baru datang. Saya ciumi Emak yang sore itu mengenakan baju kurung hijau kesayangannya. Ia terlihat agak kelelahan, mungkin tak biasa bepergian terlalu lama.

"Ibuuuu, ibu akhirnya datang..." kata Emak sambil tertawa, sementara saya hanya bisa menahan tangis. Saya tak mengira bisa seemosional ini bertemu Emak.

Keluarga Pak Naim sangat hangat menyambut saya dan Wana. Tak henti hidangan mereka suguhkan untuk kami yang mungkin kelihatan kucel dan kelelahan karena tak henti berkendara. Akhirnya terjadi juga seperti yang saya ceritakan dalam posting Nostalgia Dalam Telepon, dimana kami para guru yang pernah 'dirawat' oleh Emak akan bernostalgia tentang masa pengabdian di Serambah. Bedanya, Emak kini mendengarkan langsung dua orang yang pernah ia asuh bercerita tentang masa lalunya. Oh iya, kini Emak makin pandai berbahasa Indonesia!

"Saya mabuk Bu waktu naik kapal. Kemarin akhirnya cuma tidur-tidur di penginapan," Emak berkisah pengalaman perdananya naik kapal menyeberang Laut Jawa. Saya tertawa. "Saya aja mabok padahal sudah berkali-kali naik, gimana Emak endak?"

Melalui pertemuan singkat itu pula, saya banyak mendengar langsung kisah Pak Naim yang selama ini hanya saya dengarkan lewat Emak atau guru lain. Pak Naim adalah guru yang energik dan punya rasa keadilan yang kuat. Mungkin karena itulah ia dicintai masyarakat Serambah. Ia punya banyak cerita untuk dibagi, mungkin lain kali saya akan buat posting tersendiri.

Yang jelas, saya bahagia betul bisa kembali melihat Emak sore itu. Emak yang sehat dan tertawa seperti biasanya. Tak ada kecanggungan dalam diri Emak meski berada di tempat yang baru, dalam sekejap ia sudah bergabung dengan ibu-ibu tetangga yang kebetulan penasaran juga ada siapa di rumah Pak Naim.

Pukul lima sore akhirnya kami pamit pulang. Sebenarnya belum mau berpisah, rasa rindu ini masih meluap-luap. Pak Bonaim pun setengah memaksa agar kami menginap saja malam itu. Sayang, esoknya saya sudah harus berada di Jogja sehingga malam itu juga harus mengejar bus. Selain itu saya masih ingin bertemu Kak Irul dan Usul yang 'tertinggal' di penginapan untuk sekedar memberi ucapan selamat.

"Buuu, harus ketemu Irul ya.. Ada oleh-oleh dari orang Serambah. Orang tahu Ibu mau ketemu Emak, mereka titip oleh-oleh," ujar Emak.

Malam itu, saya tenteng dengan hati berbunga-bunga sebuah kardus bertuliskan "Untuk Ibu Kinkin" berisi ikan kering dan kerupuk asli Serambah. Akhirnya saya bisa menemui Irul beberapa saat sebelum harus beranjak ke Bungurasih. Irul terlihat senang bisa mengunjungi Gresik lagi, untuk wisuda pula. Tapi saya juga tak kalah bahagia. Ada perasaan haru mengingat bahwa saya bukan lagi seorang guru tapi sampai kini mereka masih memanggil saya Ibu.

Selamat wisuda Kak Irul, semoga ilmumu bermanfaat bagi kamu, bagi Serambah, bagi Bawean, dan bagi masa depan generasi penerus. Dan selamat Emak, akhirnya Emak punya anak seorang sarjana. Pasti jadi kebanggaan untuk Emak yang lulus SD pun tidak. Kami, yang pernah diasuh oleh Emak, tahu betul bagaimana perjuangan Emak dan Buppak menyekolahkan anak-anaknya. Pintu sorga menunggumu, Mak. Amin ya rabbal al amiin...


Emaaaak... (abaikan muka kucel seharian kena debu jalanan)
Bersama keluarga Pak Bonaim


[UPDATED] Download E-book Tangan-tangan Kecil Bawean


**UPDATE**

Akhirnya! Setelah satu bulan menunda  menyelesaikan editing (karena versi pertama dicetak agak terburu-buru), buku Tangan-tangan Kecil Bawean bisa diunduh secara gratis. Hore! *tepuk tangan sendirian*

Buku ini adalah ide dadakan Pengajar Muda VI Bawean ketika memasuki semester dua penugasan. Dipikir-pikir, selama hampir tiga tahun Indonesia Mengajar berada di Bawean, kok rasanya belum ada media publikasi komprehensif (halah bahasamu le) tentang pendidikan di Bawean ya? Memang sih, sudah ada beberapa newsletter dan majalah terbitan Disdik dan Pemkab Gresik, tapi rasanya kok masih kurang mengekspos tentang Pulau Bawean ya.. Keinginan kami sederhana kok, suara para pejuang-pejuang daerah ini didengar oleh mereka yang berwenang.

Nah, daripada cuma mengomel, lebih baik ambil solusi: buat buku sendiri.

Saya copas dari Catatan Penulis ya...

Satu tahun hanyalah 365 hari saja. Ini merupakan waktu yang sangat singkat untuk bisa menyelesaikan membaca sebuah ensiklopedia bernama Bawean. Kami baru membuka halaman-halaman depan. Ya, kami baru sempat menelusuri judul-judul besarnya ketika tetiba datanglah masa di mana kami harus meninggalkan kampung halaman kedua ini.

Tapi sungguh, satu tahun adalah waktu yang cukup untuk kami syukuri sepanjang sisa usia. Kami telah diberi kesempatan berguru langsung pada kejadian-kejadian untuk belajar tentang apa itu kehidupan. Kami dipertemukan dengan orang-orang yang mengagumkan. Mereka, yang terus bekerja dalam sunyi meski tak ada yang melihat. Mereka, yang bekerja dengan hati mencurahkan segala pikiran dan tenaganya. Mereka, yang fokus pada perubahan menuju arah kebaikan. Tangan-tangan kecil itu sekilas nampak tak berdaya, tapi ketika kita kumpulkan seluruhnya, ia menjadi sebuah kekuatan masif.

Kami merupakan angkatan ketiga sejak Indonesia Mengajar berlabuh di pulau kecil ini. Artinya, sudah tiga tahun pula kami menjadi saksi akan kerasnya kerja bakti para pelaku pendidikan Bawean khususnya dan Gresik pada umumnya. Kami tak melulu berbagi, justru kami yang lebih banyak mendapatkan inspirasi. Rasanya sayang jika semua hal berharga itu hanya disimpan di sudut memori. Perlahan, kami menuliskannya sehingga jadilah tulisan-tulisan sederhana yang terangkum di buku ini. Semoga bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.

(....)

Alhamdulillah, buku versi cetak yang didukung penerbitannya oleh Disdik Gresik dan dibagikan kepada para stakeholder (inilah target utama kami) mendapat sambutan yang hangat saat launching. Responnya sesuai yang kami duga, banyak stakeholders tidak tahu bahwa kemajuan pendidikan di Bawean sudah sepesat ini, dan sebaliknya, ada masalah-masalah urgent yang belum tertangani. Salah satu pejabat Disdik Gresik bahkan berceletuk, "Lho, saya baru tahu Mba kalo sekolah di gunung-gunung ini tetap ada muridnya." See? Itulah motivasi utama kami menulis.

E-book gratis dapat diunduh melalui Issuu (need login) dan ziddu (langsung download)
 ISSUU:
Tangan-tangan Kecil Bawean (klik share -> download)
Karena file nya agak besar, saya juga pisah e-book ini jadi tiga bagian biar ga terlalu berat mengunduhnya:
TTKB part 1
TTKB part 2
TTKB part 3
ZIDDU

TTKB part 1
TTKB part 2
TTKB part 3

Ini previewnya:







Yah, mungkin ada yang mikir, "Cuma ngajar satu tahun aja pake bikin buku segala." Justru itu, satu tahun ini sangat istimewa jhe... Buku hanyalah salah satu cara penolak lupa. Karena nyinyir saja tak ada gunanya~~

Selamat membaca, dan jangan lupa sebarkan ebook ini agar semakin banyak yang menyadari bahwa kita masih layak untuk optimis.

**PS: Kami terbuka akan saran dan kritik untuk project-project selanjutnya. Atau jika di antara teman-teman ada yang ingin mengoleksi versi cetak, silakan colek saya via email maharsiwahyu[at] yahoo [dot] com. Terimakasih!



Ini Dia, Keluarga Saya di Tanah Serambah!

Jadi ceritanya sudah satu bulan lebih meninggalkan Bawean tapi saya masih belum bisa move on. Masih sering teringat-ingat keluarga angkat saya di sana, kalau kangen hanya bisa nelpon atau lihat foto saja. Yap, saya bertekad nggak akan 'pulang kampung' ke Bawean sebelum menikah. Nikahnya kapan? Wallahu alam. *backsound tarakdungjes

Saya ingin memperlihatkan keluarga angkat saya di Serambah yang sangat saya cintai dan banggakan. Sebenarnya anak angkat Mak Masnah dan Pak Misrudi ada dua, yaitu Mas Tidar Rachmadi (PM pendahulu tahun pertama) dan saya. Kami sama-sama mengamini bahwa keluarga ini memang begitu hangat dan ngangenin. Dan ya.. kami sama-sama posesif ngga mau Mak Masnah si emak juara jadi emak kita bersama. Walau yang pasti Mas Tidar menang sih karena dia cinta pertama. Untung kakak keren satu itu lagi di Amerika jadi Mak Masnah bisa saya posesif-in sendirian. Hahahaha *kemudian ditimpuk Mas Tidar

Akhirnya, kini mereka menjadi bagian dari nostalgia saya.



Kiri ke kanan: Ulum (anak bungsu), Norma (si tengah), Irul (sulung), saya, Pak Misrudi dan Mak Masnah

ceritanya kami dibawakan baju kurung dari Malaysia, saya kembaran dengan Norma dan Asri (sepupu Norma). itu dua precil adalah keponakan Norma
heaa, kembaran bertiga, saya masih ngerasa canggung banget pake baju kurung. Hahahaha
inilah keseharian Emak dan Buppak kalau lagi ngga ke sawah atau cari rumput. Emak pintar menganyam tikar dan membuat berbagai kerajinan dari bambu. Buppak suka nganyam jaring buat cari ikan walaupun sekarang ga pernah ke laut lagi karena Ulum sudah ke Malaysia. Kasian Buppak ngga ada temannya :(
kalau selow dan ada rejeki kami suka main ke pantai dan bakar ikan tongkol 
Emak, Buppak, dan Mak Suma (kakak Emak) setia menunggui dan bantuin saya packing oleh-oleh dari warga Serambah ketika akan pulang ke Jawa bulan lalu. Kangen euy!
ini dia alat perontok padi yang biasa digunakan saat panen. saya selalu diketawain kalo coba pakai ini karena padi sebatang-batangnya ikut masuk mesin semua :))
"Buppak, senyum!" Meski giginya tinggal satu, Buppak masih aja pede ketawa lebar
Emak salah satu warga Serambah yang paling rajin ngurus sawah dan tanah sawahnya banyaaak banget, diurus cuma bertiga sama Buppak dan Norma. 

Pada Sebuah Meja Makan



Selama menjadi bagian dari keluarga Pak Misrudi dan Mak Masnah, saya selalu dipersilakan untuk ikut makan di dapur mereka. Dapur itu sederhana, terbuat dari jalinan bambu dengan atap daun aren yang terpisah dari bangunan utama.

"Bu, noro' ngakan sabedena pei ghi... Nyamana oreng tak andik, nya andik cukok kereng ya Ibu noro' ngakan pei ya Bu.. Eshon tak bisa masak se nyaman-nyaman carana oreng e nagarana Ibu."
(Bu, ikut makan seadanya saja ya... Namanya orang ngga punya, cuma punya ikan kering ya Ibu ikut makan aja ya Bu.. Saya ngga bisa masak yang enak-enak macam orang di kota Ibu.)

Di awal, pertengahan, hingga akhir masa tugas saya, selalu kata-kata tersebut yang diulang-ulang oleh Emak Masnah. Ibu angkat saya tersebut katanya sering kasihan karena saya hanya makan nasi dengan ikan kering, jika sedang tak musim ikan, dan jarang pakai sayur karena susah dicari. Jika sedang rejeki, akan terhidang sayur daun singkong, daun kelor, sayur ubi, dan sayur sawi hasil petik kebun sendiri. Mungkin Emak lupa, berat saya sempat naik sampai tujuh kilo saking nikmatnya makan masakan yang katanya 'seadanya' tersebut.


Jam-jam makan adalah salah satu momen yang paling saya nantikan di rumah Serambah. Emak sangat memperhatikan seluruh anggota keluarganya, termasuk saya. Jam makan saya teratur betul: pukul 6.30 sebelum berangkat mengajar, pukul 1.00 sepulang mengajar, dan pukul 19.30 selepas isya. Masakan ala Emak atau Norma, adik angkat saya, akan terhidang cantik di sebuah meja makan kayu di tepi dapur. Di meja makan itulah saya, Buppak, dan Kak Irul akan makan bersama. Emak dan Norma jarang makan di situ, mereka lebih suka ndeprok di depan tungku.

Saat makan, suasana sangat hidup. Layaknya sebuah keluarga ideal, cerita tentang keseharian kami semuanya tertumpahkan sembari menyuapkan butir-butir nasi ke dalam mulut. Emak biasanya punya cerita terbaru tentang tetangga atau orang dari dusun sebelah. Buppak akan meributkan hasil panen sagunya yang tak sebanyak biasanya, dan Kak Irul lebih banyak mendengarkan. Tawa di sela-sela suapan itu biasanya akan diselingi keluhan Emak atau Buppak, "Arapa Ibu mak ngakan satembi dheluk! Tambah Bu, eshon tak ghelem muang-muang nase!" (Kenapa Ibu makannya sedikit sekali! Tambah Bu, saya ngga mau buang-buang nasi!)

Dapur Emak yang ngangenin
Ketika santapan di piring kami sudah habis, saya akan menyeduhkan teh untuk saya sendiri dan kopi kental untuk Buppak. Sementara itu, Buppak mulai menyalakan rokoknya dan menghisapnya dengan satu tarikan napas yang dalam. Kemudian, ia pasti terbatuk-batuk. Setelah itu tinggal menunggu saya, Emak, atau Norma memarahi Buppak yang tak pernah kapok merokok tingwe (linting dewe) padahal paru-parunya sudah tak begitu kuat menerima asap rokok. Dan seperti biasa, ia akan jawab keluhan-keluhan kami dengan kata-kata yang lucu, membuat suasana semakin cair. Begitu terjadi setiap malam, tapi saya tak akan pernah bosan.

Pernah suatu ketika saya tak nafsu makan karena hanya makan sendirian. Emak, Buppak, dan Norma masih ada kesibukan di masjid sementara saya mengerjakan tugas di dalam kamar. Akhirnya ketika mereka datang saat malam telah larut, saya bergegas ke dapur dan ikut makan. Emak memarahi saya yang makan terlambat, dan saya jawab sekenanya, "Tak enak Mak makan sendirian, tak ada yang diajak bicara. Saya nunggu Buppak biar bisa makan bareng."

Tahu yang terjadi setelahnya? Buppak selalu menunggu saya di meja makan saat makan malam, dan jika saya tak ada di tempat ia akan menyongsong ke rumah dan meneriaki saya dengan kata-kata yang sama.

"Ibu! Makan dulu! Sudah dimasakkan harus dimakan!" Buppak berkata seakan-akan saya ngga mau makan, padahal saya sebenarnya cuma menunggu beliau datang dari masjid. Duh, jadi kangen Buppak.

Meja makan kayu sederhana ini mendekatkan kami. Saya sangat mengingat potongan nostalgia ini karena di rumah saya di Jogja, meja makan telah lama nir kehadirannya. Kesibukan masing-masing anggota keluarga, ditambah adanya kedai makan di rumah, membuat kami hampir tak pernah duduk bersama untuk makan dan sekedar bercerita. Awalnya memang sebuah meja makan oval yang besar mengambil bagian di tengah ruang keluarga. Tapi tak pernah digunakan. Hanya satu dua sisi yang bersih - akibat sering digunakan, sisanya tertumpuk debu rumah. Bahkan mungkin tahun-tahun yang lalu saya lebih sering makan di luar. Karena itulah, saya sadari betapa berharganya pengalaman makan bersama, pada sebuah meja, dan saya rasakan betul hangatnya sebuah keluarga.

Rupanya pada meja makan itulah sebuah keluarga menjadi intim; antara suami dengan istrinya, dan ayah ibu dengan anak-anaknya.

Mendaki Gunung Demi Danau Kastoba

Danau Kastoba dikelilingi perbukitan, di bagian belakang adalah persawahan di kecamatan Tambak dan laut lepas!
Eits, memang di Bawean ada gunung?
Jika menganut definisi gunung di Wikipedia yang mengatakan bahwa gunung mempunyai tinggi lebih dari 2000 kaki (600-an meter) itu artinya tidak ada gunung di Bawean. Tetapi jika menganut apa kata orang Bawean, ada 99 gunung di pulau kecil ini!
Ya, di Bawean, bukit disebut dengan gunung.

***
Akhirnya setelah satu tahun lebih vakum mendaki, sore itu rasa penasaran saya terobati. Gunung Sabu yang konon terletak tepat di tengah pulau akan menjadi tempat pendakian kami bersama teman-teman dari MA Himayatul Islam Kebuntelukdalam. Tingginya tidak lebih dari 200 meter saya kira. Hanya dibutuhkan waktu mendaki sekitar satu jam saja untuk mencapai puncaknya. Tapi jangan remehkan trek pendakian Gunung Sabu. Lumayan menanjak curam dan saya berkali-kali terpeleset tanahnya yang licin setelah diguyur hujan. Untung persiapan kami sudah lumayan matang.

Kata Bapak Nurhan, kepala sekolah MA yang mengajak kami mendaki, dari Gunung Sabu bisa terlihat pemandangan seluruh Pulau Bawean, termasuk Danau Kastoba yang legendaris (dan mistis) itu. Hanya ada bukit yang lebihi tinggi di bagian selatan sehingga panorama kecamatan Sangkapura dan dermaganya tidak terlihat. Sayangnya sejak sore mendung menggelayut di langit hingga keesokan harinya sehingga kami tak dapat menikmati momen matahari terbenam. Ditambah saya yang lupa bawa tripod jadi kesusahan mainan long exposure. Tapi serunya, itulah pertama kali saya tidur beralaskan tanah dan berselimutkan jutaan bintang tanpa takut mati kedinginan. Sesekali gerimis datang pada dini hari, tapi rupanya tak mampu membangunkan kami yang kelelahan setelah berkegiatan satu hari penuh.

Jika kalian ke Bawean dan punya waktu yang longgar, coba saja mendaki gunung ini dan dapatkan pemandangan berharga yang tidak akan kalian lupakan :)

PS: selain foto bintang, semua foto diambil menggunakan HP Sony Experia V. Cukup recommended untuk orang yang hobi melakukan kegiatan outdoor seperti saya. *bukan iklan :p* Maaf jika tulisan ini agak cheesy, sumprit tumpul banget otak saya rasanya buat nulis :))

nangkring
waktu itu saya tidur. ketika bangun, langsung lihat ini. tanpa beranjak, saya ambil kamera dan meletakkannya di perut saya untuk mendapatkan foto ini. *akibat ga bawa tripod*
another blurry photo -.-
full team! *abaikan mukanyaa!*
pagi yang mendung, pulau kecil di bagian kanan foto itu Pulau Gili
semacam akan hujan besar
sampai bertemu di perjalanan selanjutnya!